Mengenal Apa Itu Penyakit Epistaksis

Epistaksis atau awam disebut “mimisan” atau Perdarahan Hidung adalah gangguan hemostasis atau perdarahan di dalam hidung. Hemostasis dipengaruhi oleh abnormalitas dinding ronggai hidung, kelainan pembuluh darah atau koagulasi (proses pembekuan darah).

EPIDEMIOLOGI

Epistaksis merupakan kelainan perdarahan yang paling sering terjadi daerah kepala dan leher. Insiden epistaksis meningkat selama musim dingin, saat frekuensi infeksi saluran nafas atas meningkat dan adanya perbedaan suhu dan kelembaban yang drastis. Epistaksis juga sering timbul pada suhu udara yang panas dan kering dengan kelembaban rendah.

Secara umum, prevalensi terjadinya epistaksis pada masyarakat berkitar antara 10% – 15%, dengan tingkat terjadinya rekurensi sekitar 4%. Sekitar 5% sampai 10% penderita yang membutuhkan ahli THT, merupakan kasus yang memerlukan perawatan di rumah sakit, transfusi darah dan pada beberapa kasus tindakan bedah terhadap pembuluh darah hidung. Pada keadaan seperti ini harus segera dilakukan evaluasi segera, mengenali etiologi (penyebab) dan penanganan awal untuk mencegah penurunan tekanan darah/hipotensi, penurunan kadar oksigen darah/hipoksia, tersedak/aspirasi bahkan kematian.

Epistaksis dapat timbul dan mengenai semua golongan umur. Epistaksis anterior lebih sering terjadi pada anak atau dewasa muda, sementara epistaksis posterior lebih sering terjadi pada orang tua dengan hipertensi atau arteriosklerosis.

Pasien yang baru sembuh dari penyakit rhinosinusitis oleh karena sebab apapun, menjadi lebih rentan terhadap timbulnya epistaksis karena mukosa hidung menjadi lebih mudah membengkak dan lebih mudah pecah.

Hanya pada sebagian kecil kasus yang dapat menyebabkan epistaksis secara langsung, seperti pada kelainan darah, kelainan pembuluh darah atau adanya kelainan lokal pada hidung. Pada sebagian besar kasus, perdarahan dapat timbul dari pembuluh arteri atau vena tanpa kelainan yang jelas. Beberapa faktor yang dapat menimbulkan perdarahan yang mendadak (epistaksi spontan) antara lain : batuk, bersin, influensa, sinusitis, desakan atau meningkatnya tekanan dalam hidung serta kehamilan. Penyebab dari perdarahan tersebut adalah meningkatnya tekanan pembuluh darah hidung secara mendadak.

ETIOLOGI / PENYEBAB / FAKTOR RISIKO

A. Faktor Lokal

  1. Idiopatik
    Traumatik : Mengorek hidung, patah tulang wajah/hidung, cidera akibat prosedur pembedahan, hidung yang sangat kering, kelainan pada sekat hidung dan adanya benda asing dalam hidung.
  2. Adanya pilek atau hidung berair akibat suatu reaksi inflamasi dan alergi
  3. Infeksi hidung dan rongga sinus
  4. Tumor : jinak (angiofibroma) dan ganas
  5. Penyebab lainnya : akibat penggunaan obat semprot hidung, alkohol, agen kimiawi yang terhirup, obat-obatan tertentu, narkotika dan lain sebagainya.

B. Faktor Sistemik

  1. Atherosclerosis atau kekakuan pembuluh darah.
  2. Kelainan Darah :
    a. Kelainan pembekuan darah : Hemofilia, Chrismas disease, von Witlebrand’s disease, defisiensi factor pembekuan, defisiensi vitamin, penggunaan antikoagulan (obat anti pembekuan darah), myelosupressive drugs dan lainnya.
    b. Hemopoetik : Leukemia, anemia aplastik, dysproteinemia, limfoma, penyebaran luas tumor ganas.
  3. Herediter : hemorrhagic telangienctasia (HHT), hormonal seperti menstruasi dan kehamilan.

PENANGANAN UMUM

  • Kunci pengobatan yang tepat adalah aplikasi tekanan pada pembuluh darah yang mengalami perdarahan.
  • Sekitar 90% kasus epistaksis anterior mudah diatasi dengan tekanan yang kuat, kontinu pada kedua sisi hidung tepat di atas kartilago ala nasi.
  • Posisi duduk tegak akan mengurangi tekanan vaskular dan pasien lebih mudah untuk membatukkan darah dari faring.

PEMERIKSAAN

Pemeriksaan fisik penting dilakukan untuk menilai keadaan umum dan mengetahui kondisi lokal pada hidung. Penting untuk diketahui adalah asal sumber perdarahan (depan/anterior maupun belakang/posterior hidung), hidung kiri atau kanan, lama nya perdarahan dan jumlah kehilangan darah.

 

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan laboratorium darah, rontgen, CT-scan ataupun nasoendoskopi.

PENGOBATAN / TATALAKSANA

Bermacam pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan untuk menghentikan terjadinya perdarahan, diantaranya :

  1. Kauterisasi : Silver nitrat & elektrik
  2. Pemasangan Tampon Hidung (anterior, posterior)
  3. Ligasi (mengikat pembuluh darah) melalui prosedur pembedahan (A. Ethmoidalis, A. Maksilaris Interna, A. Sphenopalatina, dan A. Karostis Eksterna)
  4. Septodermoplasty
  5. Angiografi
  6. Embolisasi / radiologi intervensi
  7. Obat-obatan

 

PENCEGAHAN EPISTAKSIS

  • Edukasi untuk tidak mengorek hidung, tidak membuang ingus atau menghembus terlalu kuat.
  • Melembabkan hidung (humadifikasi) pada iklim kering, menghindari iritan udara, asap dan kontrol alergi.
  • Salep petrolatum mencegah keringnya mukosa intranasal.
  • Nasal spray (nasal steroid) > “tappering-off” untuk mempertahankan efek terapeutik maksimal tetapi menurunkan resiko kekeringan mukosa nasal dan epistaksis.

 

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *